Monday, October 1, 2018

Pilu Gempa Palu, Ibu-Anak Meninggal Berpelukan di Balaroa, Relawan sampai Menangis

Satu demi satu jenasah korban gempa Palu dievakuasi dari timbunan reruntuhan bangunan. Salah satunya di Perumnas Balaroa, Palu.

Di wilayah yang terdampak sangat parah itu, Tim Wahdah Peduli menemukan tujuh jenasah korban gempa Palu.

Salah satu yang cukup memilukan adalah evakuasi dua jenasah perempuan yang tidak lain adalah ibu-anak menantu.

Dituturkan Nasruddin Abdul Karim, salah seorang relawan Lazis Wahdah Islamiyah, menceritakan detik-detik evakuasi dua jenasah dimaksud.

Saat ditemukan, ibu-anak itu dalam posisi berpelukan, di bawah reruntuhan bangunan rumah.

�Kami menangis melihat jenasah seorang ibu di sela-sela reruntuhan bangunan dalam keadaan mendekap anak mantunya,� ujar Nasruddin.

Saat ditemukan, terang dia, saat itu tim relawan menemukan sang ibu sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

Sedangkan sang anak menantu masih bernafas. Sayangnya, korban tak dapat bertahan saat proses evakuasi dilakukan.

�Sempat minta tolong sama suaminya. Mereka baru dua bulan menikah,� jelasnya.

Salah satu kendala yang dihadapi tim relawan di lokasi adalah kondisi di wilayah tersebut yang sangat rusak dan rawan.

Diceritakannya, perumahan yang dihuni sekitar 3000 jiwa itu kondisi rumah-rumah seperti dibalik sedemikian rupa.

Sedangkan jalanan mencuat setinggi atap rumah. Sementara kondisi reruntuhan masih sangat teramat labil.

�Daerah ini yang sangat parah, banyak jenazah yang terjebak di dalam reruntuhan kompleks,� terang dia lagi.

Tak hanya itu, jika sudah datang malam hari, tak ada penerangan yang bisa didapat.

Pasalnya, sampai saat ini, listrik masih belum menyala.

�Malam hari seperti kota mati karena lampu sampai sekarang belum menyala. Gempa kecil masih sering terjadi siang dan malam,� katanya.

Menurutnya, yang paling dibutuhkan di wilayah tersebut adalah tambahan personil relawan.

Pasalnya, 20 orang tim relawan dari Lazis Wahdah Islamiyah sama sekali tak mencukupi menilik pada kondisi wilayah tersebut.

�Kami melihat kondisi lapangan sangat-sangat butuh tambahan relawan lagi terutama banyaknya mayat yang belum dievakuasi,�

�Lebih penting dari itu stok bantuan makanan dan minuman yang masih sangat minim,� tutupnya.

Untuk diketahui, sampai saat ini, dari data yang dirilis Aksi Cepat Tanggap (ACT), korban tewas akibat gempa bumi Donggala dan Palu sudah mencapai 1.203 orang.

Menurut laporan situasi terkini ACT, korban paling banyak yang meninggal berasal dari Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, yakni 700 orang.

Pengumuman itu berdasarkan data pada Senin (1/10), pukul 05.00 WIB. Rumah Sakit Undata Palu juga menampung korban meninggal terbanyak yakni 201 orang.

ACT juga mencatat 540 orang terluka. Korban luka tersebar di berbagai titik, tetapi yang paling besar dirawat di RS Wirabuana sebanyak 184 orang.

ACT juga mencatat sebanyak 46 orang hilang dengan jumlah pengungsi di Kota Palu diperkirakan mencapai 16.732 jiwa dan tersebar di 123 titik menurut data per 30 September.


sumber isi berita: pojoksatu.id

0 comments

Post a Comment

close