Panca (41), penjual bakso di Kota Solo mengaku gerobaknya nyaris tumpah karena ketakutan dengan penampakan menyeramkan yang ia jumpai di Jalan Arifin, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Ia berjumpa dengan sosok roh halus berwujud perempuan dengan suaranya yang menyeringai.
�Awalnya, saya mengira itu perwujudan kuntilanak. Saya baru tahu kemudian bahwa itu adalah arwah penasaran,� kenang Panca kepada NNC pada pertengahan September 2018.
Menurut penuturannya, kejadian mengerikan itu ia alami pada suatu malam di bulan Agustus 2018 lalu, menjelang dini hari sekitar pukul 1.30 WIB.
�Hari itu saya keliling berjualan bakso dan baru habis sekitar jam dua belas malam. Saya melewati Jalan Arifin, tidak jauh dari Kompleks Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan. Tiba-tiba saya lihat sosok perempuan berbaju putih dengan rambut menjuntai sedang duduk di bawah pohon,� kata Panca.
Ia melanjutkan, �Awalnya tidak ada rasa takut. Di tempat itu tidak ada orang lain, sementara kendaraan sudah sepi. Hanya sesekali mobil melintas. Karena lampu di lokasi tempat perempuan itu tidak terang, saya melambatkan gerobak bakso agar lampu di gerobak saya menerangi wajahnya.�
Panca berpikir, dengan penerangan lampu di gerobaknya, bisa memastikan siapa perempuan itu. Jangan-jangan ia kenal. �Mukanya terlihat pucat dengan wajah menunduk,� kata Panca menggambarkan perempuan misterius itu.
�Saya jadi berpikir akan keselamatan perempuan itu. Apalagi sudah dini hari tetapi masih nongkrong di pinggir jalan,� sambungnya.
Panca berniat baik. Ia kemudian menyapa perempuan itu dengan harapan agar pulang. �Ya, saya maksudnya menyapa sambil memberi teguran dengan bilang agar pulang, nanti dikira perempuan nakal,� kata Panca.
Entah karena tidak terima teguran Panca atau karena hal lain, perempuan itu kemudian mengangkat muka. �Jelas sekali ia sedang menangis, matanya menyala kebiruan, lalu keluar kata-kata, �Saya bukan pelacur!� Dan saat itu juga dari mulutnya terlihat keluar darah segar,� kenang Panca.
Antara kaget dan takut, tiba-tiba Panca mengaku merasa seperti lumpuh dan gemetaran. Ia menjadi susah berjalan. Ia pegang gerobak kuat-kuat dan berusaha mendorongnya.
�Gerobak terasa berat sekali. Mata saya berkunang-kunang dan melihat seolah banyak kabut di sekeliling saya,� ujarnya.
Ketika gerobak bakso sudah bisa mulai berjalan perlahan, ia kembali menengok sosok perempuan berwajah mengerikan itu. Kata Panca, �Iya, tiba-tiba sosok itu melayang menuju ke arah komplek gereja dengan sekali lagi mengatakan, �Saya bukan pelacur!� Suaranya parau seperti orang yang usai menangis seharian.�
Panca kembali terpana. Namun, di tengah pemandangan yang serba buram, ia masih bisa berpikir waras untuk segera pergi. �Saya takut akan muncul kejadian aneh lainnya. Jangan-jangan perempuan itu pergi untuk memanggil teman-temannya, roh halus lainnya. Lalu kembali untuk mengejar saya,� kata Panca.
Buru-buru ia dorong gerobak bakso yang terasa berat itu secepat-cepatnya. �Ada satu lubang aspal jalanan, saya terobos, hingga gerobak oleng dan nyaris tumpah,� kenang Panca yang mengaku masih ada sisa rasa takut, tapi juga ingin tertawa setiap mengenang saat di mana gerobaknya akan tumpah.
Tiba di rumahnya, hati Panca merasa lega. Ia merasa terhindar dari penampakan sosok perempuan menakutkan itu. Hingga paginya ia menemui kakak dari ibunya.
�Saya mendatangi kakak dari ibu saya yang biasa saya panggil Budhe Agnes. Dia orang Katolik, umat Gereja Antonius yang lokasinya sudah saya sebutkan tadi,� ujarnya.
Dari keterangan Budhe Agnes, Panca memperoleh informasi yang sedikit membantu. �Awalnya, Budhe Agnes geleng-geleng kepala, tapi selanjutnya meminta saya agar ikut mendoakan sosok arwah itu. Katanya, sosok perempuan itu adalah arwah yang ingin menyuarakan ketidakadilan atas nasib yang dialaminya,� kata Panca.
Kejadian mistis yang Panca alami di sekitar gereja sebenarnya bukanlah hal baru. Banyak orang gereja maupun warga sekitar sering menjumpai penampakan perempuan yang berteriak, menangis, dan menjerit minta tolong.
Kepada penulis, Panca selanjutnya membeberkan tentang pengetahuan yang ia peroleh dari budhenya, yang ternyata merupakan salah satu saksi mata atas kejadian tragis di era 1965, tepatnya setelah meletus Gerakan 30 September (G30S) di Jakarta. Kala itu Kota Solo geger.
Banyak sekali laki-laki dan perempuan di Kota Solo dan sekitarnya ditahan di berbagai lokasi. Mereka itu adalah para simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Gerwani, para guru anggota PGRI non-Vaksentral, hingga pejabat pemerintah Solo dari PKI.
Salah satu tempat penahanan itu adalah gedung yang dulu terletak di samping Gereja Antonius Purbayan. Kini telah berubah menjadi Sekretariat Paroki Santo Antonius.
�Kata budhe saya, sebelum menjadi paroki, gedung itu pernah digunakan pasukan Belanda untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Setelah itu dipakai untuk perkantoran bagi pemerintahan Kota Surakarta, dan pada tahun 1965 digunakan sebagai tempat tahanan perempuan,� papar Panca.
Di bawah arahan RPKAD, tentara Angkatan Darat yang ditugaskan membersihkan PKI di Solo atau Surakarta, menjadikan gedung itu sebagai markas Tim Pemeriksa Pembantu (Timperban) hingga tahun 1968. Masa selanjutnya baru diserahkan kepada pemiliknya, yaitu Gereja Purbayan.
Gedung itu terdiri dari dua lantai. Lantai pertama sebagai ruang penahanan dan lantai dua sebagai ruang interogasi. Dari lantai dua itu, konon sering keluar darah dari sela-sela lantai yang terbuat dari papan kayu. Darah menetes kemudian membasahi badan para tahanan.
Hal itu benar-benar menggoncangkan psikis para tahanan. Para tahanan satu persatu merasakan penyiksaan. Tak jarang, saat diinterogasi, tahanan perempuan dipaksa membuka pakaiannya dengan alasan mencari tanda semacam tato bergambar palu arit.
�Katanya, tahanan perempuan selalu diolok-olok sebagai �perempuan Gerwani, pelacur, keturunan sundel bolong�, yang membuat para perempuan sangat terpukul. Bahkan ada pula yang katanya dilecehkan, hingga kemaluannya disodok senapan,� kata Panca.
Di tahanan itu, menurut cerita warga yang beredar, ada sejumlah perempuan yang kemudian diambil dan hilang tak diketahui rimbannya hingga kini. �Kata budhe saya, ada empat perempuan yang hilang. Saya masih ingat nama-namanya,� kata Panca sambil menuliskan daftar perempuan hilang itu kepada penulis.
Perempuan yang hilang itu ternyata bernama Kustinah Sunaryo (pimpinan Gerwani Solo), Partinah (pimpinan SOBSI), Kayati (Sekretaris Pemuda Rakyat atau PR), dan Harun Al-Rasjid (Ketua DPC Gerwani Solo).
sumber isi berita: netralnews.com
Wednesday, September 26, 2018
Sosok Itu Melayang Sambil Mengatakan, �Saya Bukan Pelacur�
Date - September 26, 2018
Nasional
Share this
Related Articles :
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Paling Dilihat
-
Mesothelioma is a form of cancer which occurs in thin membranes (called the mesothelium) lining the chest, lungs, abdomen and sometimes the ...
-
10 Web Hosting Terbaik Indonesia dan di Dunia web hosting terbaik indonesia Apa itu Hosting? beli domain dan hosting murah beli web hosting...
-
Sejumlah tokoh yang pernah terlibat dalam Aksi Bela Islam 212, mendeklarasikan dukungan kepada capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Ma'r...


0 comments
Post a Comment